oh yeah, “overseas” has driven me crazy! (Catatan 1)

Mungkin mendengar kata “overseas” mengingatkan kita pada suatu imajinasi, dimana berkeliling dunia merupakan prioritas dan kesenangan dunia yang menjadi trend sekaligus kebanggaan bagi beberapa orang. O yah, jalan-jalan ke negara lain merupakan kesenangan dunia yang bisa dibilang ini adalah buaian hedonisme untuk menciptakan prestise tersendiri. Tidak hanya melihat tempat-tempat indah yang unik, menikmati hidangan khas negara, dan berbelanja barang-barang suvenir, tetapi juga kita dapat melihat kultur dan tata aturan tiap negara yang berbeda yang berdampak pada kualitas pembangunan negara.

Oke, mari kita flashback tentang hal-hal sederhana yang bisa kita ambil hikmahnya dari berkeliling dunia. Mari kita buka facebook kita, kita baca halaman home, dan lihatlah berapa banyak teman yang mem-publish dan meng-upload tulisan dan foto mereka ketika sedang melakukan perjalanan ke suatu tempat. “…is at Singapore.”, “I’m gonna go to Australia“, “…sedang di Jerman.”, inilah beberapa status di halaman depan facebook yang pernah saya baca. Foto-foto yang “berseliweran” di facebook pun juga menunjukkan betapa bangganya mereka ketika mereka dapat mengunjungi tempat-tempat unik di negara lain. Tidak hanya itu, mereka juga menge-tag foto-foto tersebut ke teman-teman lain untuk menunjukkan betapa bangga dan hebatnya mereka.

Mungkin memang benar, berkeliling dunia adalah sebuah impian yang diinginkan oleh kebanyakan orang. Semua orang ingin menunjukkan kalau mereka memiliki kesempatan dan kemampuan untuk berkunjung ke dunia yang berbeda. Namun, hal ini tergantung dari keberuntungan masing-masing orang. Ada pepatah yang mengatakan bahwa keberuntungan = kesempatan + kesiapan. Jika ada kesempatan, namun belum ada kesiapan, maka anda tidak beruntung, begitu pula sebaliknya. Orang-orang yang memiliki kesempatan untuk berkeliling dunia adalah orang-orang yang beruntung, karena memiliki kesempatan untuk pergi dan kesiapan mereka untuk mendapatkan kemenangan dalam kesempatan itu.

Orang-orang memiliki kemampuan finansial yang berkecukupan memiliki kesempatan yang besar untuk dapat berkunjung ke luar negeri, baik liburan, bekerja, maupun sekolah. Menginap di hotel mewah, menyewa mobil, berkunjung ke tempat yang unik, dan berbelanja dapat dilakukan oleh semua orang yang memiliki kemampuan ekonomi berlebih. Di sinilah kenikmatan duniawi bepergian ke luar negeri, walaupun orang dengan ekonomi yang pas-pasan dapat juga bepergian sebagai backpacker, tetap saja uang yang akan dikeluarkan pun harus dilebihkan.

Walaupun keberuntungan itu dapat bersumber dari adanya materi atau kekayaan finansial, namun saya lebih mempercayai bahwa keberuntungan datang karena kita yang mengejarnya. Saya memiliki seorang teman yang bisa saya bilang dia beruntung. Dia juga seorang penulis buku motivator. Kami bertemu tahun 2009 di sebuah Konferensi Internasional di Singapura. Dia berasal dari keluarga berada, dilihat dari penampilan, gaya berbicara, dan pendidikannya dimana pada saat itu dia sedang menimba ilmu di salah satu universitas terkemuka di Malaysia (tanpa beasiswa). Setelah 2 tahun tidak bertemu dia, saya terkejut melihat berita-berita di wall facebook nya, ternyata dia mendapatkan beasiswa sekolah S2 di Dubai. Kemudian, saya melihat foto-foto dia di berbagai negara, seperti Perancis, Australia, Thailand, dan sebagainya. Terlebih lagi dia ternyata seorang penulis salah satu buku motivator yang menjadi bestseller book baru-baru ini yang menceritakan tentang pengalaman dia di Dubai dan negara lain. Hal ini pun dia dapatkan karena usaha dan doa.

Saya pun demikian samanya dengan dia, berkeinginan sama yaitu untuk melanjutkan S2 dengan beasiswa ke luar negeri. Dengan beasiswa inilah, maka orang yang memiliki kemampuan yang kurang cukup untuk ke luar negeri dapat memiliki kesempatan yang sama dengan orang yang berkemampuan finansial berlebih. Berbagai usaha sudah dilakukan dan selama 2 tahun, namun belum mendapatkan hasil dari usaha itu, dimulai dari belajar TOEFL untuk mencapai angka 600 (PBT) atau 100 (IBT), membuat daftar universitas-universitas berdasarkan jurusan yang diinginkan, mencari rekomendasi dosen, membuat motivation letter, sampai mengurus administrasi ijasah, transkrip nilai, akta kelahiran, dan dokumen lainnya. Selain menguras banyak energi dan pikiran, mengurus sekolah ke luar negeri tersebut membutuhkan biaya yang cukup besar. Mengikuti tes IELTS atau TOEFL IBT menghabiskan biaya sekitar 180 – 200 dolar, sedangkan TOEFL PBT sebesar 29 – 30 dolar, tetapi TOEFL PBT sudah mulai ditiadakan oleh beberapa universitas di luar negeri. Jika anda ingin mengambil sekolah ke Amerika, selain TOEFL IBT, anda harus mengikuti tes GRE untuk jurusan teknik dan ilmu sains, dan tes GMAT untuk ilmu ekonomi, bisnis, dan manajemen yang memiliki biaya yang besar pula.

No lunch for free! Inilah kata-kata yang selalu diingatkan oleh ayah saya ketika saya mengutarakan niat untuk sekolah di luar negeri. Memang tidak ada yang gratis di dunia ini, bahkan untuk hal beasiswa sekalipun. Namun, kepercayaan untuk mendapatkannya lah yang membuat kita rela untuk mengeluarkan biaya di awal. Kekecewaan yang mendalam karena gagal berkali-kali untuk mendapatkan beasiswa itu kerap terjadi pada saya dan semua orang. Usaha yang keras, dimulai dari mengeluarkan energi dan pikiran sampai biaya, banyak dilakukan oleh orang-orang ambisius yang ingin melanjutkan studi dan mencari rezeki di negeri orang.

Saya tidak bermaksud untuk melecehkan pendidikan tinggi di dalam negeri. Namun, saya ingin merasakan dan mendapatkan pendidikan dan pembelajaran hidup yang berbeda di negara lain serta pengembangan diri. Saya ingin merasakan daun yang berjatuhan pada musim gugur, bunga-bunga yang bermekaran pada musim semi, serpihan es salju yang menempel di pohon cemara, dan sengatnya matahari di musim panas. Saya ingin tahu mengapa Jepang dapat menciptakan kereta tercepat dunia (shinkansen), mengapa Singapura dapat memiliki stasiun MRT berlapis-lapis di bawah tanah, mengapa Perancis dapat melestarikan bangunan dan benda bersejarah. Saya juga ingin mengetahui mengapa Indonesia memiliki SDA yang kaya namun masih belum memajukan bangsanya, mengapa negara yang memiliki SDA yang miskin tapi menjadi negara maju dengan teknologi yang sophisticated seperti Jepang. Intinya, saya ingin mengetahui dan mengambil hikmah mengenai segala sesuatu kehidupan berbeda yang membuat mata dan pikiran terbuka atas arti kemajuan!

Nasihat Imam Syafi’i yang sangat saya kagumi merupakan inspirasi saya untuk merantau ke negeri orang, berikut cuplikan nasihat beliau:

“Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Begitu dalam makna syair sekaligus nasehat Imam Syafi’i tersebut. Nasehat tersebut merupakan penenang para penuntut ilmu yang akan dan sedang merantau. Ya memang benar, selain berniat baik untuk menuntut ilmu dan mendapatkan pengembangan diri yang positif, kita memang akan mendapatkan banyak hal, termasuk teman. Karena pergaulan yang luas akan membawa kita ke kehidupan yang lebih baik. Tentu saja, tidak mudah hidup di negeri orang karena membutuhkan adaptasi. Dengan demikian, perjuangan keras untuk sukses dengan merantau akan membuahkan hasil yang luar biasa, asalkan kita mempercayai ini.

Bagi saya, berkunjung dan hidup di negeri orang tidak semata-mata hanya berpose di depan landmark, makan, dan berbelanja. Ke luar negeri adalah anugerah luar biasa untuk menerima tantangan hidup dalam menuntut ilmu dan pengembangan diri, dan belajar untuk beradaptasi dengan lingkungan baru serta bersosialisasi dengan karakter manusia yang berbeda dan mengambil contoh-contoh positif untuk diri sendiri dan bangsa, serta mengambil hikmah untuk hal-hal negatif yang dapat kita saring. Walaupun saya pribadi belum berhasil mendapatkan beasiswa ke negara yang diinginkan, namun saya percaya dengan kerja keras dan semangat yang tinggi dan disertai dengan kesabaran akan membawa saya ke sana, begitu pula dengan kalian. Hidup ini hanya sekali, merasakan perantauan untuk hal yang positif tentu saja sebaiknya dilakukan dan untuk mendapatkan rahmat dari Allah SWT semata. Selamat merantau kawan!!! ^_^

 

By: Irmanita Harsari – menunggu pulang abis magrib hehe

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.